Tari Topeng Lengger
Kabupaten Wonosobo adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Ibu kotanya adalah Wonosobo.Wonosobo mempunyai berbagai macam ciri khas yang berbeda dengan daerah-daerah lain yang berada dikawasan Jawa Tengah ataupun provinsi manapun. Wonosobo mempunyai berbagai macam Kebudayaan, Gaya Hidup Masyarakat, Makanan Khas sektor pariwisata dan lain-lain. Wonosobo juga mempunyai kesenian yang sangat populer dikalangan masyarakat. Yaitu Tari Topeng merupakan suatu kesenian yang berasal dari Wonosobo asli. Hampir dari tiap-tiap kecamatan yang ada dikabupaten Wonosobo mengembangkan seni ini. Seni ini digunakan diberbagai acara resmi maupun tidak resmi. Kadang juga Tari Topeng ini digunakan untuk meramaikan acara Ruwatan Rambut Gimbal, kadang juga dihari besar-besar tertentu. Yang menarik dari Tari Topeng adalah aksi atraktif dari pemain seperti:
Makan Rumput,  makan bara api, berjalan di atas paku, berjalan di atas api, mengupas kelapa dengan mulut, menarik beban berat dengan gigi dan lain-lain, herannya saat-saat atraksi dilakukan sang pemain dalam keadaan tidak sadar atau dalam pengaruh lelembut yang membayanginya atau biasa disebut “NDADI/MENDEM”
Ndadi sendiri mempunyi banyak arti, diantaraya adalah :
Menjadi-jadi atau sebagai makhluk jadi-jadian (dalam hal ini menirukan pola hewan yang mereka jadi).
Kesurupan, yaitu adanya roh-roh yang menyusup dalam raga pemain.
Menjadi tidak sadar karena dalam pengaruh lelembut.
Hal demikian dapat terus terjadi bila gamelan (musik) masih dimainkan, namun bila musik berhenti. mereka akan lebih mengamuk dan marah. untuk menyadarkan pemain, perlu adanya sang pawang dan sesaji yang mereka kehendaki. sang pawang biasanya membaca mantra dan do’a - do’a untuk menyelamatkan jiwa pemain serta membebaskannya dari pengaruh roh yang sedang merasuk dalam raga pemain. Sehingga pemain dapat kembali sadar.

2. Tari Kuda Lumping
Kuda lumping adalah seni tari yang dimainkan dengan properti berupa kuda tiruan, yang terbuat dari anyaman bambu atau bahan lainnya dengan dihiasi rambut tiruan dari tali plastik atau sejenisnya yang di gelung atau di kepang, sehingga pada masyarakat jawa sering disebut sebagai jaran kepang. Tidak satupun catatan sejarah mampu menjelaskan asal mula tarian ini, hanya riwayat verbal yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Konon, tari kuda lumping adalah tari kesurupan. Ada pula versi yang menyebutkan, bahwa tari kuda lumping menggambarkan kisah seorang pasukan pemuda cantik bergelar Jathil penunggang kuda putih berambut emas, berekor emas, serta memiliki sayap emas yang membantu pertempuran kerajaan bantarangin melawan pasukan penunggang babi hutan dari kerajaan lodaya pada serial legenda reyog abad ke 8.

Terlepas dari asal usul dan nilai historisnya, tari kuda lumping merefleksikan semangat heroisme dan aspek kemiliteran sebuah pasukan berkuda atau kavaleri. Hal ini terlihat dari gerakan-gerakan ritmis, dinamis, dan agresif, melalui kibasan anyaman bambu, menirukan gerakan layaknya seekor kuda di tengah peperangan.
Seringkali dalam pertunjukan tari kuda lumping, juga menampilkan atraksi yang mempertontonkan kekuatan supranatural berbau magis, seperti atraksi mengunyah kaca, menyayat lengan dengan golok, membakar diri, berjalan di atas pecahan kaca, dan lain-lain. Mungkin, atraksi ini merefleksikan kekuatan supranatural yang pada zaman dahulu berkembang di lingkungan Kerajaan Jawa, dan merupakan aspek non militer yang dipergunakan untuk melawan pasukan Belanda.
Sejarah Tari Lengger Tari Lengger menurut ceritanya sudah ada sejak zaman pemerintahan Prabu Brawijaya yang kemudian diadopsi oleh agama Islam untuk menyebarkan agama Islam diseluruh Nusantara. Tari ini berawal ketika Raja Brawijaya yang kehilangan putrinya, Dewi Sekartaji, mengadakan sayembara untuk memberikan penghargaan bagi siapa pun yang bisa menemukan sang putri. Bila pria yang menemukan akan dijadikan suami sang putri dan jika wanita maka akan dijadikan saudara. Sayembara yang dikuti oleh banyak ksatria ini akhirnya tinggal menyisakan dua peserta yaitu Raden Panji Asmoro Bangun yang menyamar dengan nama Joko Kembang Kuning dari Kerajaan Jenggala. Satu lagi, Prabu Klono dari Kerajaan Sebrang, merupakan orang yang menyebabkan sang putri kabur karena sang raja menjodohkannya.
Dalam pencarian tersebut, Joko Kembang Kuning yang disertai pengawalnya menyamar sebagai penari keliling yang berpindah-pindah dari satu desa ke desa lain. Lakon penarinya adalah seorang pria yang memakai topeng dan berpakaian wanita dengan diiringi alat musik seadanya. Ternyata dalam setiap pementasannya tari ini mendapat sambutan yang meriah. Sehingga dinamai Lengger, yang berasal dari kata ledek (penari) dan ger atau geger (ramai atau gempar). Hingga di suatu desa, tari Lengger ini berhasil menarik perhatian Putri Dewi Sekartaji dari persembunyiannya.
Namun pada saat yang bersamaan Prabu Klono juga telah mengetahui keberadaan Sang Putri, mengutus kakaknya Retno Tenggaron yang disertai prajurit wanita untuk melamar Dewi Sekartaji. Namun lamaran itu ditolak Dewi sehingga terjadilah perkelahian dan Retno Tenggaron yang dimenangi Sang Putri.Sementara Prabu Klono dan Joko Kembang Kuning tetap menuntut haknya pada raja. Hingga akhirnya raja memutuskan agar kedua kontestan itu untuk bertarung. Dalam pertarungan, Joko Kembang Kuning yang diwakili oleh Ksatria Tawang Alun berhasil menewaskan Prabu Klono. Di akhir kisah Joko Kembang Kuning dan Dewi Sekartaji menikah dengan pestanya disemarakkan dengan hiburan Tari Topeng Lengger. Lengger yang pada zaman Kerajaan Hindu Brawijaya merupakan Ledek Geger (penari yang mengundang keramaian), mengalami perkembangan saat kerajaan-kerajaan Islam mulai berdiri. Sunan Kalijaga yang merupakan salah satu wali yang menggunakan pendekatan seni dan budaya dalam berdakwah, menjadikan tari Lengger sebagai media untuk mensyiarkan Islam.
3. Tari lengger
Tari Lengger berasal dari kata “elinga ngger”. Yang artinya ingatlah nak. Lengger tersebut bermakna petuah atau nasehat agar kita selalu ingat kepada Tuhan yang Maha Esa, untuk b atau berbuat baik kepada semua orang. Pada saat itu, hiburan yang disenangi oleh masyarakat adalah Tayub atau Ledek. Pada saat masyarakat sedang mengadakan hiburan Tayub atau Ledek, Sunan Kalijaga hadir pula ditengah-tengah para penonton. Apabila sudah tiba saatnya untuk sholat, baik itu sholat Dzuhur, ‘Ashar, Maghrib, Isya’, maupun Shubuh, Sunan Kalijaga selalu mengingatkan dengan kata elinga ngger iki wis wayahe padha shalat age padha shalat dhisik (ingatlah nak saatnya sholat, mari kita sholat dulu). Dengan kata elinga ngger maka timbul kata Lengger
Selain itu, ada juga yang mengartikan bahwa Lengger berasal dari kata Langgar atau Musholla. Upaya yang dilakukan Sunan Kalijaga untuk menarik minat orang-orang agar mau datang dan mengaji di Langgar adalah dengan cara menggelar kesenian tari di sekitar Langgar. Maka dari itu, kesenian tari tersebut dinamakan Lengger.

Lengger dan Perkembangannya
Pada zaman dulu, lengger dipentaskan dalam ritual keagamaan, yang penarinya adalah laki-laki. Mengingat perempuan selalu mendapat haid, sementara untuk ritual keagamaan orang yang melakukan ritual tersebut haruslah suci. Jadi, para penarinya dipilih laki-laki. Namun, dalam perkembangannya para penari lengger yang semula dimainkan oleh laki-laki diganti dan disertakan penari perempuan karena ditakutkan jika penarinya laki-laki tidak ada yang menonton. Di Wonosobo, tari lengger dirintis di Desa Giyanti oleh tokoh kesenian tradisional setempat, yaitu Bapak Gondowinangun pada tahun 1910. Kemudian pada tahun 60-an tarian ini dikembangkan oleh Alm. Ki Hadi Soewarno yang kemudian menjadi tarian khas dihampir seluruh Desa yang ada di Wonosobo, termasuk di Desa penulis yakni Desa Timbang. Kesenian Lengger biasa ditampilkan ketika ada pesta rakyat, Hut RI, merdi desa atau hanya untuk hiburan biasa.

Pentas Lengger
Waktu pentas kesenian Lengger dimulai dari pukul 20.00 sampai 24.00 bahkan ada yang sampai pagi. Sebelum pentas, tari Lengger diawali dengan sajian karawitan gending Patalon sebagai pertanda akan dimulai. Setelah itu dilanjutkan tembang Babadono, pada saat lagu Tolak Balak untuk menolak semua gangguan, seorang pawing tampil dengan membawa sesajen (kembang kanthil, mawar merah putih, sambal terasi, keluban tales, singkong bakar, terong lampu, gelas kembang, timun, bengkoang dan kemenyan). Setelah sesaji dianggap cukup seorang pawang tersebut membaca mantra sambil membakar kemenyan. Ini semua dimaksudkan untuk meminta kepada roh Endang (roh wanita pelindung mereka) agar mau turut merasuki para pemain dan melindungi semua pemain selama pentas seni Lengger berlangsung, agar terhindar dari gangguan dan marabahaya. Adapun pakaian yang digunakan penari Lengger terdiri dari: jarit, kebaya, pakaian ubetan selendang, bulu diatas kepala. Sedangkan rias yang digunakan aleh penari adalah terdiri dari: bedak, eye shadow, pensil alis dan lipstick. Dalam setiap pentasnya, setelah penari menarikan tariannya beberapa saat, seringkali muncul penari pria. Penari pria tersebut muncul sebagai pasangan dari penari perempuan, yang seringkali menandakan klimaks pentas Lengger tersebut. Penari pria biasanya sampai kesurupan, kemasukan roh-roh jahat, dan bahkan sampai bisa makan beling atau kaca. Hal semacam inilah yang biasanya menjadi daya tarik para penonton untuk menyaksikan pentas Lengger. Fariasi pada kesenian lengger adalah adanya barongan. Mirip dengan kesenian barongsai yang berasal dari Tionghoa. Sehari sebelum tampil biasanya alat yang akan di gunakan di magiskan (Ritual) agar orang yang memakai dapat kesurupan. Tetapi ada juga yang tidak menggunakan ritual, tanpa mengurangi keindahan dan estetika Kesenian Lengger tersebut.

Pro dan Kontra terhadap Lengger
Di Wonosobo pada umumnya, dan di Desa Timbang pada khususnya, kesenian Lengger mengalami perkembangan, yaitu perubahan fungsi dari ritual keagamaan menjadi hiburan saja, ternyata banyak menuai pro dan kontra masyarakat, dimana Lengger tersebut dimainkan. Di Desa Timbang, Wonosobo, tidak ada kontra dari aparat pemerintah Desa mengenai diselenggarakannya kesenian Lengger tersebut. Namun dari kalangan agama, terdapat pro dan kontra terhadap kesenian Lengger. Sebagian berpendapat bahwa kesenian lengger tersebut dilarang dipentaskan, apalagi jika pentas tersebut dilakukan di ritual-ritual keagamaan ataupun di tempat-tempat dimana ritual-ritual agama dilaksanakan, seperti di Musholla, Masjid, Majlis Taklim, dll. Namun, ada sebagian yang berpendapat bahwa kesenian Lengger diperbolehkan. Golongan yang berpendapat seperti ini kiranya mencontoh strategi dakwah walisongo, terutama Sunan Kalijaga dalam mendakwahkan Islam. Islam tetap didakwahkan kepada masyarakat dengan cara halus dan perlahan. Masyarakat tetap diperbolehkan melangsungkan pentas Lengger, namun juga diajak untuk melaksanakan ritual-ritual Islam. Masyarakat yang diperbolehkan untuk melakukan pentas Lengger, dapat menerima Islam. Perilaku abangan masyarakat ini semakin lama semakin hilang, berganti dengan pelaksanaan-pelaksanaan Islam dalam melakukan ritual-ritual keagamaan. Walaupun kesenian Lengger yang ada telah berubah fungsi menjadi hiburan saja, dan tetap mereTari Lengger Dieng Wonosobo: National Geographic Traveler Indonesia Oktober 2015
Hujan tak kunjung turun setelah beberapa bulan lamanya menyisakan tanah kering yang meniupkan debu ke udara di antara hawa dingin dataran tinggi Dieng, yang terletak di Kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo. Musim kemarau kali ini menyisakan kesedihan, kentang dan beberapa sayuran yang ditanam para petani gagal panen akibat bun upas (embun es). Para petani buntung berselimut lara. Namun, pelipur sederhana mereka bukanlah rupiah, melainkan rentak kaki para penari yang selaras dengan bunyi gamelan. Lahan-lahan pertanian di tubir bukit kosong melompong tanpa ada satu pun petani yang menggarap tanah. Syahdu suara sinden mendayu hingga ke ujung dataran tinggi. Di Dieng, esok setelah hari perayaan kemerdekaan Republik Indonesia adalah hari untuk merayakan kebahagiaan, yang juga berarti waktunya melupakan kesedihan untuk sementara waktu. Beragam pertunjukan kesenian tradisional disajikan kepada para warga yang datang memenuhi kawasan Candi Arjuna dan damai. Tari lengger menjadi pamungkas hari itu. Sedari kemarin, Mujiono bersama kerabat di Paguyuban Kesenian Tari Topeng Sri Widodo, Dieng, sudah dibikin sibuk untuk pementasan. Dimulai dari membersihkan puluhan topeng dan gamelan, juga membuat lemari baru tempat topeng-topeng yang digunakan dalam pertunjukan lengger disemayamkan. Sesajen pun disiapkan sebelum pertunjukan. Dari dulu hingga saat ini, tak banyak yang berubah dalam setiap penampilan tari lengger. Malam sebelum pertunjukan, Mujiono yang ditahbiskan sebagai pemimpin, dukun, penari, dan pelestari tari lengger berkisah mengenai asal mula tari lengger. Tari ini berawal dari cerita Dewi Galuh Condro Kirono, putri dari Prabu Lembu Ami Joyo yang meninggalkan Kerajaan Jenggolo Manik akibat selir raja yang tak suka dengan perjodohan sang putri dengan Raden Panji Asmoro Bangun. Dalam pelariannya, Dewi Galuh Condro Kirono menyamar sebagai penari lengger. Namun, pada suatu kesempatan pertunjukan tari lengger untuk menghibur para penggawa praja, topeng yang digunakan sang putri tak mampu menghambat perjumpaannya dengan Raden Panji Asmoro Bangun, sang calon suami. Sebagai bentuk ekstistensi tarian tradisional yang sudah berusia sepuh, tari lengger setidaknya masih mampu memberikan pertunjukan yang menghibur para pemirsa setianya. Seperti para pelestari tari tradisional di seluruh Nusantara, Mujiono serta para penari dan seluruh tenaga yang terlibat dalam tari lengger mengemban beban yang tak bisa dikatakan ringan, di tengah gempuran seni dan budaya asing yang kian vulgar serta lebih mudah diterima oleh generasi kekinian.

4. Tari Ndolalak
Tari dolalak adalah tari permainan atau hiburan yang biasa dimainkan oleh muda- mudi. Namun dalam perkembangannya Tari Angguk mulai disisipin hal-hal mistis. Konon, Tari Angguk juga dianggap bisa mengundang roh halus untuk ikut bermain dengan menggunakan media tubuh sang penari
Jenis-jenis Angguk dan Pemain
Tarian yang disajikan dalam kesenian angguk terdiri dari dua jenis, yaitu:
Tari Ambyakan, adalah tari angguk yang dimainkan oleh banyak penari. Tarian ambyakan terdiri dari tiga macam yaitu:
Tari Bakti
Tari Srokal
Tari Penutup
Tari Pasangan, adalah tari angguk yang dimainkan secara berpasangan. Tari pasangan ini terdiri dari delapan macam, yaitu:
Tari Mandaroka
Tari Kamudaan
Tari Cikalo Ado
Tari Layung-layung
Tari Intik-intik
Tari Saya-cari
Tari Jalan-jalan
Tari Robisari
Pada mulanya angguk hanya dimainkan oleh kaum laki-laki saja. Namun, dalam perkembangan selanjutnya tarian ini juga dimainkan oleh kaum perempuan. Para pemain angguk ini mengenakan busana yang terdiri dari dua macam, yaitu busana yang dikenakan oleh kelompok penari dan busana yang dikenakan oleh kelompok pengiring.
Busana yang dikenakan oleh kelompok penari mirip dengan busana prajurit Kompeni Belanda, yaitu:
baju berwarna hitam berlengan panjang yang dibagian dada dan punggungnya diberi hiasan lipatan-lipatan kain kecil yang memanjang serta berkelok-kelok
celana sepanjang lutut yang dihiasi pelet vertikal berwarna merah-putih di sisi luarnya
topi berwarna hitam dengan pinggir topi diberi kain berwarna merah-putih dan kuning emas. Bagian depan topi ini memakai “jambul” yang terbuat dari rambut ekor kuda atau bulu-bulu
selendang yang digunakan sebagai penyekat antara baju dan celana
kacamata hitam
kaus kaki selutut berwarna merah atau kuning
rompi berwarna-warni
Sedangkan busana yang dikenakan oleh kelompok pengiring adalah:
baju biasa
jas
sarung
kopiah
Peralatan musik yang digunakan untuk mengiringi tari Angguk di antaranya adalah:
kendang
brdug
tambur
kencreng
rebana (2 buah)
terbang besar
jedor
Tari Angguk adalah tarian tradisional yang berasal dari Yogyakarta dan menceritakan kisah tentang Umarmoyo-Umarmadi dan Wong Agung Jayengrono dalam serat ambiyo. Tarian ini dimainkan secara berkelompok oleh 15 penari wanita yang berkostum menyerupai serdadu Belanda dan dihiasi gombyok barang emas sampang, sampur, topi pet warna hitam, dan kaus kaki warna merah atau kuning dan mengenakan kacamata hitam. Tarian ini biasanya dimainkan selama durasi 3 hingga 7 jam.
Pada mulanya Tari Angguk adalah tari permainan atau hiburan yang biasa dimainkan oleh muda- mudi. Namun dalam perkembangannya Tari Angguk mulai disisipin hal-hal mistis Konon, Tari Angguk juga dianggap bisa mengundang roh halus untuk ikut bermain dengan menggunakan media tubuh sang penari
Jenis-jenis Angguk dan Pemain
Tarian yang disajikan dalam kesenian angguk terdiri dari dua jenis, yaitu:
Tari Ambyakan, adalah tari angguk yang dimainkan oleh banyak penari. Tarian ambyakan terdiri dari tiga macam yaitu:
Tari Bakti
Tari Srokal
Tari Penutup
Tari Pasangan, adalah tari angguk yang dimainkan secara berpasangan. Tari pasangan ini terdiri dari delapan macam, yaitu:
Tari Mandaroka
Tari Kamudaan
Tari Cikalo Ado
Tari Layung-layung
Tari Intik-intik
Tari Saya-cari
Tari Jalan-jalan
Tari Robisari
Pada mulanya angguk hanya dimainkan oleh kaum laki-laki saja. Namun, dalam perkembangan selanjutnya tarian ini juga dimainkan oleh kaum perempuan. Para pemain angguk ini mengenakan busana yang terdiri dari dua macam, yaitu busana yang dikenakan oleh kelompok penari dan busana yang dikenakan oleh kelompok pengiring.
Busana yang dikenakan oleh kelompok penari mirip dengan busana prajurit Kompeni Belanda, yaitu:
baju berwarna hitam berlengan panjang yang dibagian dada dan punggungnya diberi hiasan lipatan-lipatan kain kecil yang memanjang serta berkelok-kelok
celana sepanjang lutut yang dihiasi pelet vertikal berwarna merah-putih di sisi luarnya
topi berwarna hitam dengan pinggir topi diberi kain berwarna merah-putih dan kuning emas. Bagian depan topi ini memakai “jambul” yang terbuat dari rambut ekor kuda atau bulu-bulu
selendang yang digunakan sebagai penyekat antara baju dan celana
kacamata hitam
kaus kaki selutut berwarna merah atau kuning
rompi berwarna-warni
Sedangkan busana yang dikenakan oleh kelompok pengiring adalah:
baju biasa
jas
sarung
kopiah
Peralatan musik yang digunakan untuk mengiringi tari Angguk di antaranya adalah:
kendang
bedug
tambur
kencreng
rebana (2 buah)
terbang besar
jedor

5. Kebo Giro
Tari Kebo Giro dimainkan dengan iringan gending kebo giro, yanang bermakna kerbau yang mengamuk. Karakter gerak tainya kasar, brangasan dan tidak beraturan. Topeng ini pada umumnya berwarna merah, dengan ciri khusus bertanduk, bentuk hidung pengotan, ada juga yang seperti pisekan tetapi berukuran lebih besar, bentuk mata plelengan dan bentuk mulut mrenges. Tetapi untuk topeng kebo giro yang lebih tua justru tidak menggunakan tanduk, bentuknya mirip tokoh wayang Dursasana. Visualisasi topneg kebo giro dengan tanduk ini pertama kali diciptakan oleh Bapak Marsaji (Alm) dari desa Singosari Kecamatan Kalijajar Kabupaten Wonosobo. Yang kemudian bentuk topeng ini ditiru oleh para pembuat topeng yang lebih muda. Kebo Giro. Aslinya sih sebenarnya nama dari gending Jawa Temanten (alat musik / gegamelan). Tapi oleh adik kelasku SD-SMP Kebo giro dijadikan sebuah nama kesenian tradisinal abad 21, dan lebih dikedepankan pada Kebo yang sesungguhnya dalam art performancenya. Ini terlihat dari tanduk yang dipakai dikepala para pemainnya. Konon, menurut Sang Pencipta Kesenian ini, ide pembuatan Kebo Giro hadir ketika disuruh membuat fragmen tanpa konsep untuk sebuah festival. Artinya Beliau dan kawan-kawan sedusunnya disuruh membikin sesuatu yang bisa ditampilkan dalam festival tapi harus murni ciptaan sendiri. Festivalnya disebut Festival Lima Gunung. Sekedar pengantar apa filosofi dibalik Kebo Giro ini, beliau menjelaskan, "Kebo Giro adalah tarian kontemporer yang menceritakan tentang gerak dan tingkah Kerbau atraktif. Kenapa musti Kebo? Ini terinspirasi dari Tokoh-tokoh besar jaman lampau, yang dengan penuh kebanggaan menggunakan nama binatang ini untuk identitasnya. Sebutlah Kebo Anabrang, Lembu Sora, Kebo Marcuet, dan sebagainya. Gerak dinamis serta rampag peloq pada gendingan merupakan keelokan dari tarian Kebo Giro." "Dilain pihak, Kebo Giro dengan alunan gamelannya juga merupakan representasi dari perjalanan kerbau dan interaksi kerbau dengan kita (baca: manusia). Kami (beliau dkk-red) juga masih menggunakan kerbau untuk membajak sawah dalam keseharian mereka sebagai petani. Tanpa ada alat modern untuk menggarapnya."