Salah satu kekhasan tari topeng ini adalah pada gerakan
tangan dan tubuh yang gemulai, sementara iringan musiknya di dominasi oleh
kendang dan rebab. Keunikan lainnya adalah adanya proses pewarisan keahlian
dari generasi tua kepada yang lebih muda.
Seperti diketahui, tari ini memiliki keragaman gaya
tarian, adapun proses pewarisan erat hubungannya dengan adat istiadat sebuah
desa atau daerah yang memiliki tari topeng dengan kekhasan tersendiri.
Pada
tari Topeng Cirebon terdapat beberapa gaya tarian yang secara yang telah diakui
secara adat, gaya-gaya ini berasal dari desa-desa asli tempat di mana tari
Topeng Cirebon lahir dan juga dari desa lainnya yang menciptakan gaya baru yang
secara adat telah diakui lepas dari gaya lainnya. Endo Suanda seorang peneliti
tari Cirebon melihat perbedaan gaya tari Topeng Cirebon antar daerah tersebut
dikarenakan adanya penyesuaian selera penonton dengan nilai estetika gerak
tarian di atas panggung, berikut
beberapa gaya tari Topeng Cirebon:
Tari Topeng Gaya Beber
Tari Topeng Cirebon gaya
Beber adalah salah satu gaya tari Topeng Cirebon yang lahir di desa Beber, kecamatan Ligung, kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Sejak
abad ke 17, awalnya tari Topeng yang ada di desa Beber dibawa oleh seorang seniman dari Gegesik, Cirebon yang
bernama Setian, tetapi menurut para ahli Dalang Topeng Cirebon
gaya Beber seperti mimi Yayah dan Ki Dalang
Kardama yang pertama kali membawa tarian Topeng ke desa Beber dan menjadi tari Topeng Cirebon gaya Beber
adalah mimi Sonten dan Surawarcita yang masih berasal dari
Gegesik sejak itu menurunkan beberapa generasi para seniman.
Dalang tari Topeng Cirebon gaya Beber
Para dalang tari Topeng Cirebon yang terkenal jamannya di antaranya Andet Suanda, Ening Tasminah, H. Warniti yang kesemuanya telah almarhum, Generasi berikutnya yaitu Rohati (anak tunggal dari Ening Tasminah), Iyat (telah almarhum), Iis, Nengsih, juga para buyut, cucu serta pewarisnya yaitu Yayah, istri dari Ki dalang Suhadi di desa Randegan (sekarang telah mekar menjadi desa Randegan Kulon dan desa Randegan Wetan, kecamatan Jatitujuh, kabupaten Majalengka ), Een di Beber dan Ki Pandi Surono (anak dari dalang Rohati dan cucu dari dalang Ening Tasminah) yang membina Sanggar Anggraeni.
Tari Topeng Cirebon gaya Brebes
Menurut Babad Tanah
Losari diceritakan bahwa Pangeran Angkawijaya pergi ke Losari
dari kesultanan Cirebon menepi dari kehidupan Keraton karena tidak ingin
terkungkung dengan sistem kehidupan kesultanan yang serba gemerlap. Selain itu,
menepinya Pangeran Angkawijaya dari kesultanan Cirebon karena adanya konflik Internal soal perjodohan
antara dirinya dengan kakaknya yakni Panembahan Ratu.
Saat itu Panembahan Ratu yang
termasuk kakak Angkawijaya hendak menikahi putri dari Raja Pajang yakni Nyai
Mas Gamblok, sebenarnya putri Gamblok lebih menyukai Pangeran Angkawijaya,
tetapi karena urutan usia, Panembahan Ratu yang lebih tua menyatakan berhak
mengawini Nyai Mas gamblok, menghindari hal yang tidak dinginkan terjadi,
Pangeran Pangeran Angkawijaya lalu pergi ke arah timur dari tanah Cirebon
hingga menetap di daerah pedukuhan pinggir sungai Cisanggarung yang akhirnya
dinamakan Losari, dari tempat ini kemudian Pangeran Angkawijaya mengembangkan
keterampilannya di bidang seni, beberapa hasil kreasinya diyakini adalah batik
Cirebon motif Gringsing dan tari Topeng Cirebon gaya Losari.
Pangeran Angkawijaya tercatat
meninggal pada tahun 1580 dan dimakamkan di desa Losari lor, kecamatan Losari, kabupaten Brebes.
Tari Topeng Cirebon gaya
Brebes sebenarnya merupakan tari
Topeng Cirebon gaya Losari yang mendapatkan banyak pengaruh lokal, termasuk
dari segi alur ceritanya.
Tari Topeng Cirebon gaya Celeng
Merupakan salah satu gaya tari Topeng Cirebon yang
penyebarannya berpusat di blok (bahasa Indonesia: dusun)
Celeng, desa Loh
Bener, kecamatan Loh Bener, kabupaten Indramayu.
Dalang tari Topeng Cirebon gaya Celeng
Asal usul gaya Celeng
dipercaya dibawa oleh Ki Kartam (seorang ahli dalang wayang
dan dalang topeng) dari wilayah Majakerta yang merupakan kakak dari Ki Panggah
(yang melestarikan tari Topeng Cirebon gaya Cipunegara di kabupaten Subang),
sementara kedekatan gerak tarian antara gaya Celeng dengan gaya Pekandangan
disebabkan mimi Rasinah yang aslinya berasal dari desa
Pamayahan,kecamatan Loh Bener, kabupaten Indramayu belajar seni dalang topeng kepada ibu (bahasa Cirebon dialek
Dermayu: emak) Suminta, ibu dari Ki Dalang Haji Rusdi dan nenek (bahasa Cirebon dialek
Dermayu: Mak tuwa) dari budayawan Cirebon asal Indramayu Ady Subratha,
kemudian mimi Rasinah pindah ke desa
Pekandangan, kecamatan Indramayu, kabupaten Indramayu dan mempopulerkan tari Topeng Cirebon gaya
Pekandangan, inilah yang menyebabkan ada beberapa gerak tarian yang terkesan
mirip antara gaya Celeng dengan gaya Pekandangan.
Pada masa kejayaan gaya
Celeng, ada seorang dalang Topeng lain yang terkenal selain emak Suminta,
yaitu emak Sukesah yang masih saudara dengan emak Suminta. Emak Sukesah
kemudian menikah dengan Ki dalang Sajim (dalang Wayang Kulit Cirebon) dari kecamatan Pegaden, kabupaten Subang,
keluarga Ki Sajim kemudian ada yang meneruskan menjadi
dalang Wayang Kulit Cirebon diantaranya adalah Ki Sukardi
dan Ki Casta.
Tari Topeng Cirebon gaya Cibereng
Tari Topeng Cirebon gaya
Cibereng merupakan ragam tari Topeng Cirebon yang ada di desa Cibereng, kecamatan Trisi, kabupaten Indramayu.
Dalang tari Topeng Cirebon gaya Cibereng
Dalang tari Topeng Cirebon
gaya Cibereng yang terkenal salah satunya adalah Ki dalang
Carpan.
Tari Topeng Cirebon gaya Cipunegara
Tari Topeng Cirebon gaya
Cipunegara merupakan salah satu
gaya tari Topeng Cirebon yang wilayah penyebarannya berada di sekitar kecamatan Pegaden hingga
ke bantaran sungai Cipunegara yang merupakan perbatasan dengan kabupaten Indramayu. Perkembangan kebudayaan di wilayah Cipunegara (termasuk
di sebagian besar daerah dataran rendah kabupaten Subang)
tidak terlepas dari kontribusi masyarakatnya. Tari Topeng Cirebon gaya
Cipunegara ini oleh masyarakatnya disebut sebagai tari Topeng Menor,
karena kemerduan suara dan kecantikan para penarinya.
Pusat tari Topeng Cirebon
gaya Cipunegara berada di desa Jati, kecamatan Cipunegara dan desa Gunung
Sembung, kecamatan Pegaden, kabupaten Subang.
Dikarenakan desa Jati terkenal sebagai salah satu pusat tari Topeng
Cirebon gaya Cipunegara, maka tari Topeng Cirebon gaya Cipunegara ini juga
dikenal dengan nama tari Topeng Jati.
Willy Sani dalam
penelitiannya tentang tari Topeng Menor menyatakan bahwa bahasa pengantar yang
digunakan dalam pagelaran tari Topeng Cirebon gaya Cipunegara ini adalah bahasa
Sunda, bahasa pengantar yang digunakan tersebut berbeda dengan kebanyakan gaya
tari Topeng Cirebon dari wilayah Cirebon dan Indramayu yang menggunakan bahasa Cirebon sebagai
bahasa pengantaranya. Keunikan yang terjadi semata-mata dikarenakan alkulturasi
budaya antara budaya Cirebon dengan budaya Sunda dikarenakan dalam pementasan
tari Topeng Cirebon gaya Cipunegara tersebut juga didatangi oleh masyarakat
Sunda yang kurang paham dengan bahasa Cirebon sehingga
bahasa Sunda digunakan sebagai bahasa pengantar pementasan agar pesan-pesan
yang berusaha disampaikan dalam setiap babak tariannya dapat
dengan mudah dimengerti oleh masyarakatnya. Namun demikian, Willy Sani juga
mengatakan bahwa penggunaan bahasa Sunda tidak berarti jika nayaga (penabuh
gamelan) dan para Dalang Topeng tersebut tidak bisa menggunakan bahasa Cirebon,
sebaliknya mereka semua fasih menggunakan bahasa Cirebon walau
selama pementasan harus menggunakan bahasa Sunda agar penonton memahami setiap
isi babak.
Dalang tari Topeng Cirebon gaya Cipunegara
Dalang-dalang topeng yang
berada diwilayah Pegaden dan Cipunegara bisa dikatakan seluruhnya merupakan
keturunan dari Dalang Panggah. Dalang Carni dan Dalang Ratem merupakan dua
orang dalang dari wilayah Cipunegara yang hingga kini masih terbilang aktif
melestarikan gaya Cipunegara.
Tari Topeng Cirebon gaya Gegesik
Tari Topeng Cirebon gaya
Gegesik memiliki daerah penyebaran
di sekitar kecamatan Gegesik, kabupaten Cirebon.
Pada tari Topeng Cirebon gaya Gegesik yang paling terlihat berbeda adalah raut
karakteristik topengnya. Topeng Panji pada gaya Gegesik digambarkan dengan
karakteristik wajah berwarna putih dengan raut tenang, mata sipit dengan
tatapan yang selalu merunduk tajam, hidung mancung dan senyum yang terkulum.
Pada perkembangan sebuah
kesenian termasuk tari Topeng Cirebon gaya Gegesik, perubahan adalah sesuatu
yang tidak dapat dihindari. Perubahan yang terjadi pada tari Topeng Cirebon
gaya Gegesik kebanyakan dipengaruhi oleh struktur masyarakat urban serta
berperannya sekolah kesenian, modernisasi, peristiwa, politik dan perubahan
pandangan pewaris topeng, terutama sekitar tahun 1980 hingga tahun 2000. Perubahan
tari Topeng Cirebon gaya Gegesik terutama terjadi pada cara dan bentuk
penyajiannya, sehingga pada masa itu pertunjukan topeng dicampur dengan dangdut
atau yang oleh masyarakat disebut sebagai topeng-dangdut.
Dalang tari Topeng Cirebon gaya Gegesik
Di wilayah kecamatan Gegesik juga
terdapat banyak dalang topeng, para dalang tersebut kebanyakan berasal dari
keturunan para maestro tari Topeng Cirebon gaya Gegesik yaitu Mutinah, Lesek
dan Jublag. Keturunan dalang Mutinah yang bisa ditelusuri adalah dalang Juniah,
sementara keturunan dalang Lesek adalah dalang Sumarni dan yang terakhir
keturunan dalang Jublag adalah dalang Baerni dan Baedah yang keduanya masih
dapat dikatakan aktif walau sudah sangat jarang diundang tampil di masyarakat.
Dalang Baerni kini pindah ke
wilayah kecamatan Pegaden, kabupaten Subang untuk
mengikuti suaminya yang bekerja sebagai guru Sekolah Menengah Pertama (SMP),
sedangkan dalang Baedah juga mengikuti suaminya pindah ke wilayah kota Cirebon.
Tari Topeng Cirebon gaya Gujeg
Tari Topeng Cirebon gaya
Gujeg tersebar disekitar desa Gujeg, kecamatan Panguragan, kabupaten Cirebon.
Dalang tari Topeng Cirebon gaya Gujeg
Gaya Gujeg sangat
memprihantinkan, dikarenakan sepeninggal dalang Noglo, di wilayah desa Gujeg sudah tidak terdengar lagi adanya dalang topeng
penerusnya lahir.
Tari Topeng Cirebon gaya Kalianyar
Tari Topeng Cirebon gaya
Kalianyar sama seperti gaya Gujeg
yang berada di dalam wilayah kecamatan Panguragan, gaya Kalianyar terpusat disekitar desa
Kalianyar, wilayah pusat penyebaran gaya
Kalianyar ini hanya dipisahkan oleh kali Winong disebelah timur dengan desa Gujeg dan hanya beberapa kilometer ke selatan dari
wilayah ini sudah dapat ditemui gaya Slangit di desa Slangit dan gaya Kreyo di desa Kreyo.
Dalang tari Topeng Cirebon gaya Kalianyar
Di wilayah Kalianyar terdapat
beberapa dalang tari Topeng, di antaranya dalang Sutini yang sudah pensiun
karena faktor usia dan dalang Kasniri yang masih aktif.
Tari Topeng Cirebon gaya Kreyo
Tari Topeng Cirebon gaya
Kreyo terpusat di desa Kreyo, kecamatan Klangenan, kabupaten Cirebon yang
hanya terpisahkan dengan desa Slangit disebelah timur oleh ruas jalan antar kecamatan
yang menghubungkan kecamatan Klangenan dengan kecamatan Panguragan
Dalang tari Topeng Cirebon gaya Kreyo
Pada masa jayanya, gaya Kreyo
memiliki seorang dalang tari Topeng yang terkenal, dia bernama Tarmi atau biasa
dikenal dengan nama dalang Tarmi, sekarang yang ada hanyalah dalang Tumus,
tetapi dia lebih sering menjadi nayaga (penabuh gamelan)
kelompok tari Topeng Cirebon milik dalang Keni Arja (seorang maestro Topeng
Cirebon gaya Slangit) sebagai
penabuh saron penimbal.
Tari Topeng Cirebon gaya Losarang
Tari Topeng Cirebon gaya
Losarang memiliki daerah penyebaran inti di kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu.
Tari Topeng Cirebon gaya Losari
Tari Topeng Cirebon gaya
Losari memiliki daerah penyebaran
di sekitar kecamatan Losari, kabupaten
Cirebon dan kecamatan Losari, kabupaten Brebes, menurut maestro tari Topeng Cirebon Irawati Ardjo,
lokasi Losari yang berbatasan dengan wilayah Jawa Tengah membuat
tari Topeng Cirebon gaya Losari banyak dipengaruhi elemen-elemen budaya jawa,
keterangan serupa juga diberikan oleh Dr. Een Herdiani dari Sekolah Tinggi Seni
Indonesia (STSI) Bandung, menurut dia perbedaan yang menjadi ciri khas tari
Topeng Cirebon gaya Losari ada pada musik pengiringnya, gerakan tari dan
pakaian penarinya.
Dalang tari Topeng Cirebon gaya Losari
Di dalam gaya Losari,
dalang yang terkenal di antaranya adalah almarhumah Sawitri dan Dewi dari
sanggar tari Topeng Cirebon Purwa Kecana, perjuangan melestarikan
gaya Losari kemudian diteruskan kepada keturunannya, di antaranya Taningsih,
Nur Anani, Kartini, Srinarti, Warsono dan Susana.
Tari Topeng Cirebon gaya
Palimanan
Tari Topeng Cirebon gaya
Palimanan tersebar disekitar kecamatan Palimanan dan
sekitarnya.
Dalang tari Topeng Cirebon gaya Palimanan
Para dalang tari Topeng
Cirebon gaya Palimanan sebagian besar merupakan keturunan dari dalang
Wentar, Ki Dalang Wentar mempunya beberapa orang anak
diantaranya Mimi Mini, Mimi Ami, Ki Dalang Saca, Mimi Nesih dan Mimi Soedji, di
antara keturunan dari Wentar yang terkenal adalah Tursini anak dari dalang
Soedji seorang maestro tari Topeng Cirebon gaya Palimanan. Beberapa keturunan
dalang Wentar tidak hanya berdiam di kecamatan Palimanan saja. namun menyebar ke wilayah lainnya
terutama kabupaten Majalengka. Dalang Sukarta yang kini tinggal di desa Bongas, kecamatan Sumber
Jaya, kabupaten Majalengka, merupakan salah satunya, dalang Sukarta merupakan keturunan Ki
Wentar dari jalur Mimi Mini, anak Mimi Mini yaitu Mimi Ina yang
kemudian menikah dengan Ki dalang Entang dari desa Balad, kecamatan Dukupuntang, kabupaten Cirebon merupakan
ibu dan ayahnya, sehingga Ki Dalang Sukarta sekaligus menjadi
cucu bagi Ki dalang Saca (anak dalang Wentar) dan dalang
Soedji yang merupakan saudara neneknya yaitu dalang Mini. dalang lain yang
terkenal dari gaya Palimanan adalah Ki dalang Ade Irfan.
Tari Topeng Cirebon gaya Pekandangan
Merupakan sebuah gaya
tari Topeng Cirebon yang berkembang di wilayah desa
Pekandangan, kecamatan Indramayu, kabupaten Indramayu, gaya Pekandangan merupakan salah satu dari sedikit gaya
tari Topeng Cirebon yang ada di Indramayu selain gaya Tambi yang lestarikan
oleh mimi Wangi Indriya.
Dalang tari Topeng Cirebon gaya Pekandangan
Dalang topeng gaya
Pekandangan yang terkenal adalah mimi (bahasa Indonesia:
ibu) Rasinah anak dari Ki Dalang Lastra dan
ibunya seorang dalang ronggeng,
menurut Ki Waryo budayawan Cirebon, mimi Rasinah
merupakan salah satu maestro tari Topeng Cirebon yang banyak menimba ilmu dari
para seniornya terdahulu seperti dari mimi' Soedji (maestro tari Topeng
Cirebon gaya Palimanan), kini setelah meninggalnya mimi Rasinah,
pelestarian tari Topeng Cirebon gaya Pekandangan dilanjutkan oleh para
muridnya, salah satunya adalah Aerli yang juga keturunannya.
Pada awalnya keluarga
besar Ki dalang Lastra mengalami kesulitan besar ketika hendak
mengembangkan tari topeng Cirebon gaya Pekandangan, kesulitan itu muncul dari
penjajah yang berfikir bahwa aktivitas pagelaran tari Topeng Cirebon gaya
Pekandangan yang dilakukan oleh Ki Lastra merupakan sebuah
aktivitas mata-mata oleh pejuang Republik Indonesia. Pada zaman penjajahan
Jepang, kelompok tari yang dipimpin oleh Ki Lastra dibekukan
hingga selanjutnya pada masa agresi militer Belanda, Ki Lastra
tewas ditembak tentara Belanda dengan tuduhan yang sama dengan sebelumnya yaitu
melakukan aktivitas mata-mata untuk Republik Indonesia.
Usaha melestarikan gaya
Pekandangan oleh keluarga besar Mimi Rasinah membuahkan hasil dengan dipentaskannya pagelaran
tari Topeng yang berjudul Napak Tilas Sang Maestro Tari Topeng Pekandangan:
Mimi Rasinah di teater terbuka balai pengelolaan taman budaya Jawa Barat pada
maret 2014 yang diperagakan oleh ratusan dalang topeng gaya Pekandangan dari
berbagai usia dan dihadiri oleh para peminat seni termasuk para murid mimi Rasinah
dari berbagai negara.
Tari Topeng Cirebon gaya
Randegan
Merupakan sebuah gaya tari Topeng Cirebon yang berkembang di
wilayah desa-desa Randegan kecamatan Jatitujuh, kabupaten Majalengka, menurut Ki Waryo (budayawan Cirebon)
tari Topeng Cirebon gaya Randegan leluhurnya berasal dari wilayah Cirebon sama
seperti tetangganya yaitu tari Topeng Cirebon gaya Beber yang leluhurnya juga
berasal dari wilayah Cirebon.
Dalang tari Topeng Cirebon gaya Randegan
Ki Rawita merupakan seorang maestro tari Topeng
Cirebon gaya Randegan yang terkenal terutama pada pementasan babak
Rumyang Udeng di acara Festival Topeng Nusantara pada tahun 2006 yang
bertempat di keraton Kasepuhan, kesultanan Kasepuhan, kota Cirebon.
Tari Topeng Cirebon gaya
Slangit
Menurut keterangan
dari Ki Erik North (budayawan Cirebon asal Santa Barbara –
California) instrumen kendang yang ada pada foto merupakan instrumen kendang
yang asli dari kebudayaan Cirebon jika dilihat dari bentuknya, bentuk ini
berbeda dari kendang Sunda yang sekarang ramai dipergunakan.
Tari Topeng
Cirebon gaya Slangit utamanya terpusat disekitar desa Slangit, kecamatan Klangenan, kabupaten Cirebon, gaya inilah yang
kemudian digunakan dan dikembangkan menjadi gaya tari Topeng Cirebon pada
sanggar kesenian Sekar Pandan milik kesultanan
Kacirebonan. Pada era tahun 80-an, sekitar tahun 1986 seorang
peneliti asing bernama Pamela Rogers-Aguiniga telah mendokumentasikan secara
mendetail berbagai dinamika dari tari Topeng Cirebon gaya Slangit melalui
bimbingan Ki Sujana Arja (maestro tari Topeng Cirebon gaya
Slangit).
Dalang tari Topeng Cirebon gaya Slangit
Dalang tari pada gaya
Slangit yang terkenal di masyarakat hampir seluruhnya merupakan keturunan dari
keluarga Arja, salah satu yang masih aktif melestarikan dan juga sebagai
pengajar formal adalah Keni Arja (saudara almarhum Ki Sujana
Arja), perjuangan keluarga Arja pada masa lalu dalam mempertahankan gaya
Slangit agar tetap lestari bukanlah sebuah hal yang mudah, setelah kematian
enam saudaranya hanya tinggal Ki Sujana Arja dan Keni Arja
yang berjuang mempertahankan gaya Slangit agar tetap lestari, karena dari
sembilan orang anak keturunan Ki Dalang Arja hanya delapan orang
yang kemudian menjadi seniman tari Topeng Cirebon, baik sebagai nayaga (penabuh
gamelan) atau sebagai dalang topeng, di antara sembilan orang
anak Ki Dalang Arja hanya Durman yang tidak menjadi seorang
seniman Topeng Cirebonan.
Perjuangan almarhum Ki Sujana
Arja dan adiknya Keni dalam upaya melestarikan gaya Slangit dimulai dari Bebarangan yakni
mengamen topeng dari kampung ke kampung dan memenuhi panggilan pentas, ditengah
terjepit dalam sulitnya mempertahankan tari Topeng Cirebon gaya Slangit yang
sepi dari panggilan pentas, kelompok tari Topeng Cirebon juga pada masa itu
(sekitar tahun 1960-an) dihadapkan dengan tuduhan bahwa mereka terkait dengan
Gerakan Tiga Puluh September (G-30-S) sehingga menyebabkan ada beberapa
kelompok tari Topeng Cirebon yang memilih untuk membubarkan diri karena takut
dikait-kaitkan dengan gerakan tersebut, tetapi karena berniat untuk
melestarikan gaya Slangit maka Ki Sujana Arja beserta
saudaranya Keni Arja tetap melakukan pagelaran untuk membuktikan bahwa tari
Topeng Cirebon gaya Slangit mampu bertahan dalam segala perubahan.
Setelah meninggalnya Ki Dalang
Sujana Arja, pelestarian tari Topeng Cirebon gaya Slangit diteruskan oleh kedua
puteranya, yaitu Inu Kertapati dan Astori, serta dalang-dalang topeng Cirebon
gaya Slangit lainnya seperti Miah, Maskeni, Karmina, Wiyono (putera dari Keni
Arja), Nunung Nurasih, Oliah, Iin, dan Turini.
Tari Topeng Cirebon gaya
Sinar Rancang
Tari Topeng Cirebon gaya
Sinar Rancang merupakan salah satu gaya tari Topeng Cirebon yang masih
dipentaskan di wilayah timur kabupaten Cirebon,
penyebaran gaya Sinar Rancang terbatas disekitar desa Sinar Rancang, kecamatan Mundu, kabupaten Cirebon.
Tari Topeng Cirebon gaya Tambi
Merupakan tari Topeng Cirebon yang penyebarannya berpusat di desa Tambi,kecamatan
Sliyeg, kabupaten Indramayu,
tari Topeng Cirebon gaya Tambi dan lainnya yang berada di wilayah kabupaten Indramayu secara umum memiliki kesamaan dengan tari Topeng
Cirebon yang ada di wilayah kabupaten Cirebon, kabupaten Majalengka serta kabupaten Subang yakni
dengan adanya lima babak tarian, perbedaannya hanyalah terdapatnya sub-babak Klana
Udeng yang merupakan kepanjangan dari babak Klana.
Dalang tari Topeng Cirebon gaya Tambi
Dalang Topeng yang terkenal dari gaya Tambi salah satunya
adalah Nyai Wangi Indria, anak dari Ki Dalang Taham
(dalang wayang Kulit Cirebon dan cucu dari Ki Wisad (seniman
tradisional).
Semoga informasi yang
diberikan oleh blog ini dapat menambah wawasan para pembaca sekalian, serta
dapat meningkatkan rasa cinta kita terhadap kesenian tradisional di Indonesia.
Sekian dan Terimakasih.





0 Komentar