Seperti diketahui, tari ini memiliki
keragaman gaya tarian, adapun proses pewarisan erat hubungannya dengan adat
istiadat sebuah desa atau daerah yang memiliki tari topeng dengan kekhasan
tersendiri.
Tari Topeng Cirebonan hadir dalam beragam jenis,
namun ada lima tari utama yang biasa ditampilkan dan dikenal dengan Topeng
Panca Wanda (topeng lima wanda atau lima rupa), diantaranya sebagai berikut :
Tari Topeng
Panji
Tarian jenis ini melambangkan kesucian anak yang baru lahir.
Motif topengnya berwarna putih bersih, hanya ada mata, hidung, dan mulut, belum
ada guratan lain. Gerakan tari jenis ini masih sangat sederhana, hanya
“adeg-adeg”, menggunakan baju dan atribut serba putih.
Tarian
jenis ini menggambarkan betapa sucinya seorang anak yang baru lahir. Gerakan
tarian juga terkesan sederhana, halus serta lembut dengan menggunakan topeng
berwarna putih serta hanya terdapat mata, hidung, mulut tanpa guratan lain.
Baju dan atribut yang digunakan biasanya serba putih. Seperti sebuah kata bijak
yang mengatakan bahwa semua manusia terlahir bagai selembar kertas putih.
Tari Topeng
Samba
Jenis tarian ini melambangkan perkembangan balita atau
kelincahan manusia di masa kanak-kanak. Gerakannya mulai genit, lincah, dan
lucu tetapi, kurang luwes atau masih ragu. Wujud topengnya sudah mulai ada
goretannya, warnanya pink keputihan. Untuk kostum sendiri berwarna hijau daun.
Kalau
jenis yang satu ini menggambarkan fase ketika seseorang sudah mulai memasuki
dunia anak-anak. Tak heran jika gerakan tarian topeng samba ini cenderung
lincah, lucu, dan genit, meski juga terkesan masih ragu dan kurang begitu
luwes. Untuk topengnya biasanya menggunakan yang berwarna pink agak putih dan
mulai terdapat guratan.
Tari Topeng
Rumyang
Tari topeng ini punya ukiran sederhana, dengan warna dasar
merah muda. Tarian ini memiliki makna remaja yang sudah mulai mencari jati
dirinya. Akan terlihat dari gerakannya yang “labil”, dengan
pengulangan-pengulangan.
Tarian
topeng rumyang ini menggambarkan seseorang saat sudah mulai memasuki usia
remaja atau akil balig dan masih mencari jati diri. Gerakan tarian jenis ini
biasanya cenderung labil dengan adanya pengulangan-pengulangan. Topeng yang
digunakan berwarna dasar merah muda dan dilengkapi dengan ukiran sederhana.
Tari
Topeng Tumenggung
Tarian ini menggambarkan manusia yang sudah menginjak dewasa
dan telah menemukan jati dirinya. Sikapnya tegas, berkepribadian, bertanggung
jawab dan memiliki jiwa korsa yang paripurna. Topengnya berkumis, dengan banyak
guratan yang berwibawa. Kostum penari berwarna hitam, yang bisa bijak
menyesuaikan dengan warna mana pun, seperti makna sikapnya. Dalam struktur kerajaan,
tumenggung merupakan patih atau panglima perang.
Penggambaran manusia yang
telah menginjak dewasa dan sudah menemukan jati diri bisa dilihat dari
tarian topeng tumenggung. Tarian ini syarat akan sikap yang tegas, bertanggung
jawab, serta bijaksana. Topeng yang digunakan memiliki kumis serta
guratan-guratan berwibawa. Untuk kostum nya sendiri biasanya penari mengenakan
warna hitam. Bila dilihat dari struktur kerajaan, tumenggung ini memiliki makna
sebagai panglima perang atau patih.
Tari
Topeng Kelana
Memiliki ukiran topeng yang paling rumit, juga banyak
ikatannya di atas topeng. Topeng dan kostum penari berwarna merah. Tariannya
agresif dan enerjik karena merupakan akumulasi gerakan dari semua tari topeng
tadi. Tarian ini melambangkan sifat angkara murka yang terdapat dalam manusia.
Topeng kelana atau topeng
rahwana ini merupakan bentuk visualisasi dari watak manusia yang ambisius,
serakah, serta penuh amarah. Topeng ini memiliki ukiran yang paling rumit
dengan banyak ikatan pada bagian atas topeng. Penari topeng kelana biasanya
akan mengenakan kostum dan topeng berwarna merah dengan gerakan tarian yang
enerjik serta agresif karena merupakan akumulasi dari semua gerakan tari topeng
sebelumnya.
Topeng-topeng yang menjadi pelengkap pada pagelaran tari Topeng
Cirebon
Kiri atas, Tembem, Patrajaya, Prasanta, Sabdapalon.
Kiri bawah, Pentul, Sadugawe, Nayagenggong/Gareng.
Kanan atas, Sentingpraya bapaknya Jinggananom (dipercaya sebagai tokoh
berdarah Tionghoa).
Kanan bawah, Ngabehi Subakrama ayah Tumenggung Magangdiraja.
Pada era sebelum tahun
70-an, menurut Ki Waryo (maestro tari Topeng Cirebon gaya
Palimanan) terdapat juga topeng-topeng lainnya yang menjadi pelengkap babak dalam
pagelaran tari Topeng Cirebon, mereka adalah
·
Tembem, Patrajaya, Prasanta, Sabdapalon.
·
Pentul, Sadugawe, Nayagenggong/Gareng.
·
Sentingpraya bapaknya Jinggananom (dipercaya sebagai tokoh
berdarah Tionghoa).
·
Ngabehi Subakrama ayah Tumenggung Magangdiraja.
Pada era sekitar tahun
60-70-an topeng-topeng pelengkap seperti Sentingpraya masih
dipentaskan pada pagelaran dinaan (bahasa Indonesia: pagelaran
siang) tari Topeng Cirebon, pada periode tersebut menurut Ki Waryo, babak tumenggung
Mangangdiraja melawan Jinggananom akan diteruskan adegannya dengan mementaskan
adegan Aki-aki perangan dimana tokohnya adalah Sentingpraya,
ayah dari Jinggananom, dikarenakan Sentingpraya diwujudkan
sebagai seorang tokoh berdarah Tionghoa, maka
pada pagelaran tari Topeng Cirebon Sentingpraya disebut juga
dengan nama Babah Sentingpraya.
https://id.wikipedia.org/wiki/Tari_Topeng_Cirebon










0 Komentar