1.     Upacara Adat Mapag Sri
Upacara adat ini di lakukan di Desa Pangkalan, Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon yang sampai saat ini masih di lestarikan dan sudah menjadi ikon desa Pangkalan.
Upacara Adat Mapag Sri merupakan pesta panen padi yang di laksanakan satu tahun sekali dan keberadaan nya tidak lepas dari tari topeng Cirebon. Tari topeng Cirebon di sajikan mulai dari tari topeng Panji, Samba, Rumyang, Tumenggung, dan Klana. Tari topeng Cirebon dalam upacara adat Mapag Sri memiliki dua fungsi yaitu primer dan sekunder. Fungsi primer sendiri sebagai tari ritual, sedangkan fungsi sekunder sebagai media hiburan dan sebagai media pendidikan.
2.     Upacara Adat Ngarot
Upacara adat ini di lakukan di Desa Lelea, Kecamatan Lelea, Kabupaten Indramayu.
Tari topeng merupakan tarian rakyat yang berasal dari Cirebon. Tari topeng memiliki lima karakter inti yaitu tari topeng Panji, Pamindo, Rumyang, Tumenggung, dan Klana.
Tari topeng, khususnya di indramayu masih di pentaskan dalam acara hajat warga seperti pernikahan, khitanan, dan rasulan. Sedangkan acara hajat desa yang masih di lakukan yaitu upacara adat ngarot merupakan upacara menyambut musim penghujan dan para petani mengharapkan berkah kesuburan. Acara ini di khususkan untuk para pemuda-pemudi yang belum menikah atau yang di sebut kasinom. Pada acara ngarot para kasinom laki-laki di suguhkan pertunjukan Ronggeng Ketuk di mana para laki-laki tersebut menari bersama dengan sang ronggeng. Sedangkan untuk para kasinom perempuan di suguhakan tari Topeng Lanang yang di tarikan oleh laki-laki.

Keunikan tari Topeng  Priangan.
Tari Topeng Priangan merupakan bentuk tari tunggal yang berasal dari Jawa Barat. Tari Topeng Priangan berkembang di Jawa Barat sekitar awal tahun 1900. 

Pada awalnya, tari ini merupakan tari Topeng Bebarang, yaitu tari topeng yang dipertunjukkan dengan cara keliling dari kampung ke kampung atau dari rumah ke rumah. Waktu penyajiannya pun tidak tetap, bergantung pada keinginan si penanggap. 


Lambat laun tari Topeng Priangan ini berkembang menjadi tari hiburan yang disajikan dalam perayaan khitanan atau perkawinan.
Unsur-unsur penyajiannya saat ini juga lebih diperhatikan, baik segi gerak maupun unsur-unsur pendukung karya tari yang lainnya. Tari topeng ini terdiri atas empat gaya, yaitu ciliwung, slangit, gegesik, dan losari. Nama-nama gaya tari tersebut diambil dari daerah atau desa tari topeng berasal.
Keunikan karya tari ini dapat dilihat dari gerak-gerak yang dilakukan oleh penarinya. Penari bergerak lincah dan tanpa canggung sedikit pun meskipun selama menari menggunakan topeng.

Gerak tari berkarakter halus dan gagah di sajikan secara bergantian. Jika dilihat dari busananya, karya tari ini juga memiliki keunikan yang sangat mengagumkan. Busana didominasi warna merah sesuai dengan karakter karya tari yang bertemakan kepahlawanan. 

Sumping yang menyatu dengan penutup kepala menjuntai panjang, kadang-kadang juga digunakan untuk melakukan gerak tari. Tata rias wajah pada karya tari ini cukup menggunakan topeng. Namun hal itu justru membuat tari Topeng Priangan semakin unik.

MAKNA TERSEMBUNYI DI BALIK TARI TOPENG CIREBON.

Tari Topeng Cirebon merupakan salah satu seni tari yang termasyhur di Jawa Barat. Tarian ini merupakan gambaran budaya yang menjelaskan sisi lain dari setiap diri manusia. Hingga saat ini, Tari Topeng Cirebon sering ditampilkan di acara-acara besar, seperti acara pernikahan.

Tak banyak yang tahu tentang sejarah panjang Tari Topeng Cirebon yang menarik untuk disimak. Ulasan ini akan menambah wawasan Anda tentang sejarah dan jenis-jenis Tari Topeng Cirebon yang memukau.

Sejarah Tari Topeng Cirebon
Tari Topeng Cirebon adalah kesenian yang populer di kawasan Parahyangan, tepatnya di daerah Ciamis. Tasikmalaya, Garut, Sumedang, Cianjur, dan Bandung. Selain daerah-daerah tersebut, biasanya Topeng Cirebon juga dipentaskan di daerah Indramayu, Jatibarang, Subang, Losari, dan Brebes. Konon, tarian sejenis sudah berkembang di Jawa Timur pada rentang abad 10 hingga 16 Masehi. Pada masa Kerajaan Jenggala di bawah pemerintahan Prabu Amiluhur atau Prabu Panji Dewa, kesenian tersebut mulai masuk ke Cirebon melalui perantaraan seniman jalanan.

Sejarah tari topeng di Cirebon juga berhubungan dengan penyebaran agama Islam. Kota Cirebon merupakan pintu masuk penyebaran agama Islam di Pulau Jawa. Syarif Hidayatullah yang dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati adalah tokoh yang berperan penting dalam penyebaran agama Islam dan tari topeng di Cirebon. Pada tahun 1470-an, Sunan Gunung Jati bekerja sama dengan Sunan Kalijaga dalam upaya penyebaran Islam di Pulau Jawa. Kala itu, kedua Sunan tersebut memfungsikan Tari Topeng sebagai media penyebaran Islam sekaligus tontonan di lingkungan Kesultanan Cirebon. Selain Tari Topeng, ada beberapa jenis kesenian lain yang juga digunakan untuk mendukung penyebaran agama Islam, yaitu Angklung, Reog, Wayang Kulit, Gamelan Renteng, Brai, dan Berokan.

Ketika Sunan Gunung Jati berkuasa di Kesultanan Cirebon pada tahun 1479, kesultanan tersebut diserang oleh Pangeran Welang dari Karawang. Sang Pangeran sangat sakti dan memiliki sebilah pedang bernama Curug Sewu. Sunan Gunung Jati tak mampu mengalahkan Pangeran Welang walaupun sudah dibantu oleh Sunan Kalijaga dan Pangeran Cakrabuana. Akhirnya, Sunan Gunung Jati menempuh jalan diplomasi kesenian untuk menghadapi Pangeran Welang.

Keputusan diplomasi tersebut adalah awal terbentuknya kelompok tari Nyi Mas Gandasari. Tarian yang dibawakan kelompok Nyi Mas Gandasari membuat Pangeran Welang jatuh cinta bahkan rela menyerahkan Curug Sewu. Penyerahan senjata tersebut membuat kesaktian Pangeran Welang hilang. Sang pangeran pun memutuskan untuk mengabdikan hidupnya bagi Sunan Gunung Jati ditandai dengan pergantian nama, yaitu Pangeran Graksan. Seiring dengan berjalannya waktu, Tari Topeng Cirebon berkembang menjadi kesenian populer yang disajikan dengan ketentuan spesifik.

Prestasi Tari Topeng Cirebon di Tingkat Nasional
Pada Mei 2019 lalu, pertunjukan Tari Topeng Cirebon ternyata berhasil memecahkan rekor Original Record Indonesia (ORI) untuk kategori penari terbanyak se-Indonesia dengan kostum Topeng Samba lengkap. Dalam kesempatan tersebut, pementasan Tari Topeng Samba dan Jaran Larad di halaman Keraton Kacirebonan turut memeriahkan perayaan ulang tahun Sanggar Seni Sekar Pandan ke-27. Pertunjukan tari tersebut melibatkan 270 orang penari anak dan remaja.
                        
Elang Heri Komalahadi selaku pimpinan Sanggar Tari Sekar Pandan sekaligus kreator tari, menjelaskan bahwa Topeng Samba menggambarkan upaya pencarian ilmu tanpa henti. Sehingga pertunjukan yang berhasil memecahkan rekor tersebut juga menggambarkan semangat menggali ilmu seni tari tradisional Cirebon. Sultan Keraton Kacirebonan, Sultan Abdul Gani Natadiningrat, menyatakan bahwa pergelaran tari spektakuler tersebut merupakan bukti eksistensi kesenian asli Cirebon. Sang pemimpin Keraton Cirebon juga berharap pertunjukan tersebut menjadi momentum yang membuat banyak generasi muda tertarik mempelajari kesenian khas Cirebon.

Upaya pelestarian Tari Topeng Cirebon juga sudah dilakukan Pertamina sejak tahun 2018. Program Corporate Social Responsibility (CSR) Pertamina yang bernama Pertamina Budaya bekerja sama dengan Keraton Kacirebonan dan Yayasan Belantara Budaya Indonesia. Acara tersebut sukses menghimpun lebih dari 260 siswa tari yang mendaftarkan diri sejak hari pertama. Kala itu, kelas tari tradisional Cirebon yang digagas Pertamina Budaya bisa diikuti oleh siswa tari berusia 3 tahun hingga 40 tahun. Antusiasme tersebut tentu patut dipertahankan demi kelestarian kesenian tradisional.

Usai menyimak informasi lengkap seputar Tari Topeng Cirebon, Anda tentu makin tertarik menyaksikannya secara langsung. Jika punya waktu senggang, tak ada salahnya mewujudkan rencana liburan ke Cirebon sambil mencari jadwal pementasan Tari Topeng yang sesuai dengan waktu liburan Anda. Jangan ngaku pernah berlibur ke Cirebon kalau belum pernah menyaksikan Tari Topeng Cirebon secara langsung.