Apa yang dimaksud dengan topeng?
Topeng merupakan benda yang dipakai di
atas wajah. Pada umumnya topeng dipakai untuk mengiringi musik kesenian daerah
yang melambangkan nilai-nilai penghormatan, sesembahan atau memperjelas watak
serta karakter dalam mengiringi kesenian. Topeng telah ada di Indonesia sejak
zaman prasejarah. Secara luas digunakan dalam tari topeng yang menjadi bagian
dari upacara adat atau penceritaan kembali cerita-cerita kuno dari para
leluhur.
Topeng telah menjadi salah satu bentuk ekspresi paling tua yang pernah diciptakan peradaban manusia. Pada sebagian besar masyarakat dunia, topeng memegang peranan penting dalam berbagai sisi kehidupan yang menyimpan nilai-nilai magis dan suci. Pada masa modern saat ini topeng merupakan salah satu bentuk karya seni tinggi. Tidak hanya karena keindahan estetis yang dimilikinya, namun sisi misteri yang tersimpan pada raut wajah topeng tetap mampu memancarkan kekuatan magis yang sulit diterjemahkan dengan bahasa logika.
Sama halnya dengan topeng Cirebon
Jawa barat, terbuat dari kayu hasil bumi hutan Cirebon seperti kayu pule dan
kayu sengon yang memiliki kriteria lunak dalam pengerjaannya awet dan kuat,
akan tetapi harus membutuhkan ketekunan, ketelitian yang tepat, serta waktu
yang cukup dalam proses penciptaannya. Secara turun temurun kerajianan khas
topeng Cirebon yang merupakan hasil kebudayaan Kota Cirebon tidak hanaya
dipandang sebagai kedok, topeng atau penutup wajah. Sejarah menunjukkan
kemunculan seni karya Topeng Cirebon di mulai pada masa kesultanan Cirebon yang
bermuatan seni bernafaskan ajaran agama islam dan dipergunakan untuk
kepentingan dakwah.
Menurut
literatur, Topeng Cirebon merupakan gambaran sangat puitik mengenai hadirnya
alam semesta serta umat manusia. Sang Hyang Tunggal yang merupakan ketunggalan
mutlak tanpa pembedaan, berubah menjadi keanekaan relatif yang sangan
berbeda-beda sifatnya.
Topeng Cirebon pada awalnya berpusat di Keraton-keraton, kini tersebar di lingkungan rakyat petani pedesaan. Dan seperti umumnya kesenian rakyat, maka Topeng Cirebon dengan cepat mengalami transformasi. Proses transformasi itu berakhir dengan keadaan yang terjadi pada saat ini, yakni berkembangnya berbagai gaya Topeng Cirebon seperti, Losari, Selangit, Kalianyar, Kreo, Palimanan serta berkembang di pelosok-pelosok Kecamatan Klangenan, Plumbon, serta Arjawinangun.
Topeng Cirebon pada awalnya berpusat di Keraton-keraton, kini tersebar di lingkungan rakyat petani pedesaan. Dan seperti umumnya kesenian rakyat, maka Topeng Cirebon dengan cepat mengalami transformasi. Proses transformasi itu berakhir dengan keadaan yang terjadi pada saat ini, yakni berkembangnya berbagai gaya Topeng Cirebon seperti, Losari, Selangit, Kalianyar, Kreo, Palimanan serta berkembang di pelosok-pelosok Kecamatan Klangenan, Plumbon, serta Arjawinangun.
Topeng
Cirebon dikenal sebagai Panca Wanda (Lima Rupa) yang merupakan alat bantu
Tarian Topeng Cirebon. Berdasarkan kepercayaan dari sejarah dan budaya Cirebon,
Topeng Babakan Lima Wanda memiliki fakta-fakta yang dapat diukur dengan
pendekatan spiritual dan sifat-sifat manusia di Cirebon, sehingga di dalamnya
memiliki muatan makna keilmuan yang dimiliki oleh peradaban budaya asli
Cirebon, kelima jenis Topeng Babakan Cirebon, diantaranya adalah :
1. Topeng Panji, merupakan sebuah penggambaran dari jiwa yang halus. Topeng Panji memiliki simbol berhati putih, bersih, tabularasa ibarat bayi yang baru lahir. Warna topengnya putih polos hingga pakaian serba putih. Komposisi gerakan tari di praktekkan secara lembut, tenang dan sederhana, walaupun alunan musiknya sangatlah dinamis, yang memebri arti akan dedikasi manusia yang suci dan tidak mudah tersentuh oleh hiruk pikuk duniawi yang mengarah kepada hal negatif.
2. Topeng Samba, merupakan
sebuah penggambaran dari jiwa yang sedang teduh. Topeng Samba juga dikenal
sebagai topeng anak-anak dalam menggambarkan kehidupan manusia Cirebon
yang dapat dilihat dari fase biologis anak-anak. Dengan gerakan keceriahan yang
menunjukkan adanya gaya hidup yang bahagia, hal ini dibuktikan mutu tariannya
yang centil, lucu, genit dan kekanak-kanakan menunjukkan kesegaran ekspresi
topeng Samba, yang berwarna putih serta berkarakter hiasan dibagian wajah atas
seperti rambut, yang dibalut dengan lincahnya gerakan tari mengikuti irama musik.
3.
Topeng Rumyang, merupakan ungkapan dari keadaan remaja yang semangatnya selalu
optimis dan penuh percaya diri. Untuk topeng Rumyang, menggambarkan tentang
seseorang yang sedang tumbuh beranjak remaja dari anak-anak. Gerakan pada
tarian jenis ini mengandung pesan bahwa setiap manusia yang beranjak dewasa,
hendaknya perbanyak untuk berbuat baik.
4. Topeng Patih (Tumenggung), merupakan sebuah penggambaran dari jiwa yang sudah dewasa.
Topeng ini menggambarkan orang dewasa yang berwajah tegas, berkepribadian,
serta bertanggung jawab. Topeng Temenggung memaknai simbol dari kebaikan kapada
sesama manusia, saling menghormati dan senantiasa mengembangkan silih Asah,
Silih Asih dan Silih Asuh, senantiasa berbuat baik untuk sesamanya. Sehingga
konsep karakter topeng Tumenggung mengindikasikan dari gambaran kehidupan
tentang para bangsawan kraton.
5. Topeng Kelana (Rahwana), merupakan topeng yang menggambarkan jiwa manusia yang penuh dengan
hawa nafsu dan emosi. Sebagian besar masyarakat Cirebon memaknai topeng Kelana
ini sebagai simbol angkara murka, kerakusan manusia. Kriteria antara adanya
simbol angkara murka ini menjadi ragam pendapat dan menjadi pusat perhatian
seniman, budayawan dan pengamat topeng. Pesan yang umum dari bentuk topeng
berwarna serba merah dengan kumis tebal dan tatapan mata tajam serta gagah.
Mampu mengekspresikan diri secara pribadi dengan menggambarkan sebagai manusia
yang mampu mengendalikan nafsu amarah.
Simbol yang kuat dalam karekter
penciptaan Topeng Cirebon adalah bentuk nyata dari ragam penciptaan semesta
berdasarkan kepercayaan Indonesia purba dimasa peradaban Hindu-Budha-Majapahit,
yang mampu memahami segala bentuk ciptaan adalah bagian atau pancaran dari Sang
Hyang Tunggal, yang telah menyempurnakan umat manusia di muka bumi. Secara
khusus, Topeng Cirebon membangun pahamisme dari diri manusia tentang gambaran
yang sangat puitik, dari hadirnya alam semesta serta umat manusia. Kemudian
ditangkap oleh akal manusia bahwa, Sang Hyang Tunggal yang merupakan
ketunggalan mutlak tanpa pembedaan, berubah menjadi keanekaan relatif yang
sangat berbeda-beda sifatnya, bergerak lambat dan pasti mampu menghasilkan
kolaborasi seni dari rupa berkarakter unsur kemanusiaan, yang tersusun dari kerajianan
seni berbentuk topeng yang dikenal saat ini.
Implementasi nyata yang dikembnagkan
dalam dimensi Topeng Cirebon yang dikomunikasikan kepada masyarakat adalah
dengan menggunakan media pendukung seperti, olah gerak tubuh secara berirama
yang dilakukan di tempat dan waktu tertentu, diiringi oleh tetabuhan atau
bunyi-bunyian, dan disebut musik sebagai pengiring gerakan penari dan
memperkuat maksud yang ingin disampaikan. Ekspresi tari yang terbalut dengan
karakter penokohan topeng menjadi alat utama komunikasi untuk menyampaikan
pesan sakral dan yang mampu menjiwai diseluruh benak para penikmat seni olah
gerak ini.
Rekontruksi Topeng Cirebon dilihat
dari kacamata sejarah dan budaya, tidak terlepas dari unsur kesenian tari.
Dapat dipastikan bahwa, serpihan-serpihan tarian yang saat ini ada dan
dipadukan dengan konteks budaya munculnya tarian tersebut. Konteks budaya
Topeng Cirebon tentu tidak dapat dikembalikan pada budaya Cirebon sendiri yang
sekarang. Artinya gerakan tari bermuatan dari unsur karakter penokohan yang
terdapat dalam penjiwaan bentuk topeng tersebut sehingga, simbol yang memadukan
unsur tari dan seni musiknya tidak terlepas dari dimensi keharmonisasian wajah
topeng yang di komunikasikan kepada publik diatas pentas seni khasa
kecirebonan.
Tari Topeng Cirebon adalah tarian
ritual yang amat sakral. Bukanlah hiasan, tontonan maupun hiburan rakyat,
berdasarkan catatan kitab-kitab lama seperti Babatan Jawa menjelaskan dimana
ketika seni tari di pertunjukanan didalam ruang terbatas yang disaksikan saudara-saudara
perempuannya kalangan bangsawan kerajaan, dan untuk menarikan topeng ini
diperlukan laku puasa, pantang, semedi, yang sampai sekarang ini masih dipatuhi
oleh para dalang topeng di daerah Cirebon.
Sejak terciptanya Tari Topeng
Cirebon, dimasa lalu menjadi salah satu tarian yang sangat langka, karena Seni
tari ini adalah warisan pada zaman Kerajaan Cirebon yang sering dipentaskan di
kerajaan, Penari dan penabuh gamelan hidup berkecukupan karena ditanggung oleh
kalangan bangsawan atau kerajaan.
Namun,
di zaman modernisasi saat ini, kesenian khas kota Cirebon terwariskan secara
alamiah dan turun temurun, sehingga kekayaan budaya dari seni tari topeng
Cirebon, mampu membangun sistem ekonomi kelompok seni yang telah menguasai seni
keceribonan secara menyeluruh dan diperkuat dengan tingginya kesadaran, akan
menjunjung harkat, derajat serta martaban dari peradaban seni budaya lokal khas
Cirebon. Hingga kini seni Tari Topeng Cirebon mulai dikenal diseluruh penjuru
tanah Pasundan, khususnya wilayah Utara Jawa Barat.https://www.inacraftnews.com/estetika-topeng-cirebon/





0 Komentar